Cikajang Kembali Diterjang Banjir, Berikut Pernyataan Kepala UPT PUPR Cikajang Garut

oleh -27 Dilihat

Garut, faktadanrealita.com-

Hujan deras yang mengguyur hampir seluruh kawasan di wilayah kecamatan Cikajang, kabupaten Garut, Jawa Barat sejak selasa (07/04/2020) sore, kembali menyebabkan air sungai meluap dan menggenangi pemukiman rumah penduduk.

Tingginya curah hujan ditenggarai tidak dapat diimbangi oleh daya tampung/ kapasitas sungai Cimanuk, sehingga luapan banjir pun tak bisa terelakkan lagi.

Terkait permasalahan banjir ini, Kepala UPT Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR), Mulyadi mengatakan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab banjir diwilayahnya, salah satunya  karena tingginya intensitas curah hujan yang mencapai 94 mm telah membuat debit air melimpah. Disamping itu rusaknya konservasi alam karena adanya alih fungsi lahan pada hulu sungai Cimanuk juga menjadi penyebabnya pula.

Selain itu, sambung Mulyadi yang baru beberapa bulan ini mendapat tugas sebagai Kepala UPT PUPR Cikajang, faktor sedimentasi atau pendangkalan juga menjadi salah satu penyebab lainnya, karena dengan terjadinya pendangkalan tingkat kapasitas sungai pun berkurang, akibatnya air meluber kemana-mana dan akhirnya terjadi banjir.

“Dengan adanya sedimentasi maka sungai pun kewalahan dalam menampung banyaknya air,” ujar mulyadi saat dihubungi wartawan Fakta & Realita melalui aplikasi WhatsAppnya, Rabu (08/04/2020).

Untuk itu, menurut Mulyadi, sebagai langkah penanganannya, pihaknya tengah bekerjasama dengan dinas terkait yang menangani konservasi hulu Cimanuk, termasuk dengan pihak pengelola perkebunan untuk segera mengembalikan lahan konservasi perkebunan tersebut sesuai dengan fungsinya.

“Upaya konservasi penting dilakukan agar daerah serapan air kembali normal, dengan begitu air hujan sebagian akan terserap tanah, tidak langsung menuju ke aliran sungai seperti sekarang ini,” terangnya.

Mulyadi menambahkan, disamping mengadakan koordinasi dalam penanganan konservasi, pihaknya pun sedang berupaya mencari solusi yang efektif dalam hal penanganan sedimentasi sungai.

“Di setiap sungai, sedimentasi lumrah terjadi. Material tanah berupa lumpur dan bebatuan biasanya akan mengendap didasar sungai, bila hal ini dibiarkan terus menerus maka akan terjadi penumpukan. Alhasil sungai pun mengalami pendangkalan yang berujung pada berkurangnya kapasitas sungai dalam menampung air,” jelasnya.

Mulyadi mengaku, sebetulnya untuk mengatasi masalah sedimentasi sungai,  solusinya tidak ada lagi selain melakukan pengerukan, akan tetapi proses pengerukkan ini tidaklah mudah. Disamping membutuhkan banyak alat berat (Beku), kita juga harus memperhitungkan waktu pelaksanaan pengerukannya. Efektifnya dilakukan pada saat musim kemarau, tidak pada musim hujan. Selain itu sulitnya akses jalan yang akan dilewati alat berat menuju lokasi sungai, terkadang menjadi tantangan tersendiri dalam melakukan pengerukan.

Mulyadi berharap, semua pihak yang terkait dengan masalah penanganan banjir di hulu sungai Cimanuk ini dapat bersinergis dan bahu-membahu dalam melakukan penanggulangannya agar kedepannya cikajang bisa terbebas dari terjangan banjir.

“Meski banjir kali ini tidak menyebabkan korban jiwa, namun demikian masyarakat tetap harus waspada karena saat ini masih dalam musim penghujan,”

Mulyadi juga mengajak kepada seluruh masyarakat kecamatan cikajang untuk senantiasa menjaga kelestarian alam sekitar, jangan menebang pohon sembarangan, dan juga tidak membuang sampah ke sungai.

“Jika hal ini dilaksanakan, sudah barang tentu keseimbangan alam akan berjalan dengan baik, sehingga di masa yang akan datang, kita sudah tidak mendengar lagi berita tentang Cikajang kebanjiran,” pungkasnya.

Reporter : WH | Editor : Red_FR

No More Posts Available.

No more pages to load.