Disbudpar Garut Pertontonkan “Cegat” Dihadapan Anak-anak SDIT Atimu

oleh -28 Dilihat

Garut, Fakta & Realita-

DINAS Kebudayaan Pariwisata (Disbudpar) kabupaten Garut dalam upaya menumbuhkan kembangkan kecintaan anak-anak sekolah terhadap sejarah, seni budaya, dan pariwisata kabupaten Garut, Rabu (13/9), bertempat di SDIT Atikah Mussadad Al-Wasilah (Atimu) Garut, menggelar acara bertajuk “Cerita Garut (Cegat)”.

Fungsional Subkor panggung Budaya Kesenian dan Perfilman Disbudpar Garut, Wawan menyebutkan, penyampaian informasi terkait sejarah, seni, budaya dan pariwisata kabupaten Garut kepada anak-anak sekolah sangatlah penting dilakukan, karena faktanya banyak diantara mereka yang belum faham mengenai hal tersebut.

“Pada dasarnya program yang kita sampaikan ke anak-anak SD saat ini, lebih merupakan program lanjutan tahun 2017 dan 2018 yang sempat tertunda. Cegat adalah inovasi Disbudpar Garut dalam rangka melaksanakan Undang-undang Kementerian Kebudayaan No. 5 Tahun 2017,” ujarnya.

Dengan program Cegat ini, lanjut Wawan, selain akan menambah wawasan anak-anak, juga diharapkan akan tumbuh nilai-nilai kecintaan terhadap tanah kelahirannya (Garut).

“Tadi lewat audio visual (proyektor), kepada anak-anak kita paparkan tentang sejarah berdirinya Garut, bangunan-bagunan bersejarah, ragam seni budaya, tempat pariwisata dan potensi unggulan lainnya. Khusus seni budaya, mereka sangat antusias dan proaktif saat kita ajak untuk melantunkan ‘kawih-kawih murangkalih’ (lagu-lagu anak sunda) jaman dulu yang kerap terdengar saat sedang bermain,” ungkapnya.

Wawan menambahkan, untuk sementara ini program Cegat akan kita upayakan ke sekolah terdekat terlebih dahulu, khususnya sekolah-sekolah yang ada di wilayah sekitar kantor Disbudpar Garut, “ya kita fokuskan di kecamatan Garut Kota dulu lah, mungkin nanti kedepannya bisa melangkah ke kecamatan lainnya,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala SDIT Atimu Garut, H. Suwarso S.Pd., M.Pd., sangat menyambut baik program Cegat yang digulirkan Disbudpar Garut ini, menurutnya, pemaparan sejarah Garut, seni budaya, dan potensi unggulan pariwisata daerah ke anak-anak sekolah memang harus disampaikan, agar mereka senantiasa tidak melupakan jati dirinya sebagai orang Garut.

“Jadi di SD Atimu sendiri, meski anak-anak diarahkan untuk berfikir secara global, baik lingkup Jawa Barat, Indonesia, maupun dunia. Namun tetap, dalam hal bertindak diupayakan secara lokal, disesuaikan dengan kearifan lokal yang ada. Makanya, di kita pun ada pelajaran basa sunda, walau materinya tak begitu mendalam. Dengan adanya Cegat, tentunya ini sangat bagus, karena wawasan dan pemahaman mereka tentang kebudayaan daerahnya akan semakin bertambah,” ucapnya.

Dikatakan Suwarso, sebetulnya dalam budaya sunda itu ada yang namanya prinsip “silih asah, silih asih, silih asuh”, dan ini merupakan budaya yang paling bagus saat ini, “karena itu di SDIT Atimu kita implementasi dan terapkan prinsip itu. Tujuannya, agar didalam diri anak tumbuh rasa saling memiliki dan rasa peduli terhadap sesama,” ujarnya.

Suwarso berharap, anak-anak sekolah dengan adanya program Cegat Disparbud ini bisa lebih memahami budayanya sendiri sebagai bekal pengetahuan kedepannya nanti, “adapun untuk sosialisasi program Cegat Disparbud Garut, kami juga berharap minimalnya program ini diadakan setahun sekali, agar budaya sunda kita tetap lestari sepanjang masa,” pungkasnya.

Red_FR

No More Posts Available.

No more pages to load.