9 Maret 2021

Fakta & Realita

Berita Harian Terkini, Berita Hari Ini, Kabar Harian Terbaru Terpercaya Terlengkap Seputar Priangan

Webinar Perdana Prodi Komunikasi UNSIA Dengan Tema “Transformation of Digital Communication”

Jakarta – Sabtu (31/10/20) Program Studi Komunikasi Universitas Siber Asia (UNSIA) menyelenggarakan Web-Seminar (Webinar) edisi perdana dengan mengusung tema “Transformation of Digital Communication”, sebagai refleksi terhadap berbagai perubahan dan tantangan bidang komunikasi di era Revolusi Industri 4.0. Melalui tema ini, webinar ini diharapkan dapat memberikan pandangan luas dalam memahami perkembangan dan transformasi komunikasi digital, khususnya bagi mahasiswa baru Program Studi Komunikasi UNSIA.

Seminar berbasis Online ini dimulai pada pukul 10.00 WIB ini dibuka oleh sambutan dari Ir. Abdul Wahab Bangkona, M.Sc selaku Wakil Rektor Bidang Adm. Umum, Keuangan, SDM dan Kerjasama Universitas Siber Asia (UNSIA). Dalam sambutannya, Wahab menyampaikan bahwa acara virtual seminar ini merupakan sesuatu yang sangat strategis, penting, dan mendesak karena teknologi berkembang maju dalam segala aspek kehidupan manusia. Terlebih komunikasi merupakan sebuah pilar kehidupan khususnya bagi generasi penerus dan sangat menentukan sukses tidaknya sebuah kelompok sosial di tengah masyarakat.

“Harus ada kesadaran secara nasional mengenai transformasi komunikasi. Terlebih lagi generasi saat ini sudah memasuki era digital sehingga harus ada peningkatan pemahaman dan kesadaran mengenai standar, kaidah, dan etika dalam berkomunikasi yang berorientasi pada hasil (output) yang maksimal dalam konteks kemajuan bersama. Webinar ini pun diharapkan dapat berkontribusi mengenai pengembangan regulasi-regulasi nasional dalam ranah komunikasi sehingga seluruh lapisan masyarakat bisa berkomunikasi dengan skill yang memadai”. Tandas Wahab yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kemenakertrans RI.

Webinar ini menghadirkan 3 (tiga) narasumber dari kalangan praktisi dan akademisi, yaitu Agung Suprio selaku Ketua KPI pusat, Agung Laksamana M.Sc, selaku Ketua Umum Perhumas, dan Dr. Muhamad Sulhan, S.IP., M.Si, selaku Ketua Umum Aspikom. Dipandu oleh Moderator Dosen Senior Ilmu Komunikasi Universitas Nasional (UNAS) Jakarta, Nieke Monica Kulsum, S,E., M.Si. Seminar ini dibagi dalam tiga sesi, yaitu satu sesi bagi setiap pembicara untuk memaparkan materi dan disambung dengan diskusi serta tanya jawab.

Narasumber pertama, Agung Suprio menyampaikan materi mengenai “Tantangan Regulasi Penyiaran Digital dan Media Baru”. Dalam pemaparannya, Suprio menjelaskan bahwa di Asia Tenggara Indonesia masih sama kedudukannya dengan Timor Leste dalam hal transformasi digital. Artinya, Indonesia masih tertinggal dari negara lain karena belum melakukan Analog Switch Off (ASO) yaitu perpindahan atau migrasi ke digital frekuensi televisi di Indonesia.

“Regulasi yang berkaitan dengan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law). Dalam UU Cipta Kerja dikatakan bahwa 2 tahun mendatang Indonesia akan melakukan transformasi digital (Analog Switch Off). Televisi analog akan melakukan perpindahan ke digital, begitu pun dengan internet yang akan mengalami transformasi dari 4G ke 5G. Oleh karena itu, KPI harus membuat regulasi yang seimbang karena selama ini KPI identik dengan pengawasan terhadap siaran/tayangan televisi. Maka hal ini harus menjadi catatan tersendiri bagi KPI dalam merancang regulasi mengenai media baru yang menjadi sarana konsumsi masyarakat” Ungkap Suprio.

Ketua Umum Persatuan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS), Agung Laksamana, M.Sc, memaparkan materi yang kedua dengan tema “Transformasi Public Relations (PR) di Era Digital”. Peran Public Relations atau Humas di era transformasi digital menjadi topik utama, yaitu membedah proses komunikasi dalam menyampaikan pesan perusahaan untuk menumbuhkan trust (kepercayaan) kepada para stakeholders. Terdapat beberapa poin penting yang menjadi tantangan dunia PR di era digital, seperti aspek government relations yang berkaitan dengan regulasi, maupun dalam aspek komunikasi digital yang menjadi bagian dari ranah publik.
“Suatu perusahaan harus memiliki sikap kehati-hatian di segala lini dalam mengomunikasikan pesan kepada publik. Keseluruhan peran PR dalam menghadapi suatu perubahan dapat dipahami melalui formula “Right Conten–Right People–Right Time–Right Channel–Personalization”. Pada akhirnya, terdapat sebuah “mantra PR” yang meliputi ADOPT yang berarti pintar mengadopsi situasi dan kondisi saat ini, ADAPT yang berarti pintar beradaptasi dengan strategi baru/inovatif/kolaboratif, dan ADEPT yang berarti mahir (expert) di era transformasi digital saat ini”, tambah Laksamana.

Baca Juga :   Di Momentum Hari Santri 2020, Wakil Bupati Garut Bagikan Sepeda Kepada Empat Santri Penghafal Al-Qur'an

Guna mengimbangi kedua narasumber yang berasal dari birokrasi dan dunia bisnis, narasumber ketiga justru menghadirkan Dr. Muhamad Sulhan, S.IP., M.Si dengan pemaparan tema “Transformasi Komunikasi Digital Perspektif Teoritis”. Sulhan menyampaikan bahwa transformasi komunikasi ke dalam ranah digital saat ini memiliki berbagai problem di dalamnya. Namun demikian, khalayak sebagai pengguna (user) justru menikmatinya dengan mencontohkan seperti rasa kecanduan dalam bermain telepon genggam (handphone) mengalahkan kecanduan terhadap minuman. Ini semua diawali dengan hadirnya Facebook hanya sebatas berbicara masalah pertemanan, Twitter yang berbicara masalah opini, dan Instagram yang berbicara masalah pengalaman. Namun, fenomena baru pun muncul yaitu hadirnya TikTok yang berbicara masalah kesenangan (having fun).

Sulhan menggarisbawahi hal yang paling unik dari hal digital adalah tentang budaya. Jantung budaya digital terbagi menjadi interaksi sosial dan jejaring sosial. Dunia digital menjadi menarik manakala teknologi menjadi aktor sosial dalam kehidupan manusia. Peran dari “orang” komunikasi dalam perspektif dunia digital adalah bagaimana memandang medianya. Output yang dihasilkan pun berupa kajian mengenai budaya media digital, sehingga timbul suatu istilah “jalan tol” dunia komunikasi saat ini bernama dunia digital yang bersifat cepat, rahasia, dan nyaman. Dalam konteks ini information society dan digital society merupakan dua unsur besar yang akan dihadapi oleh generasi saat ini. Di masa depan media menjadi perantara dan jembatan utama dalam segala hal aktivitas komunikasi yang terkait dengan informasi dan digitalisasi. Maka kajian kembali kepada media, yang memegang kunci permainan mencakup khalayak (netizen), bahasa, dan pesan.
Peserta yang hadir dalam acara webinar kali ini tidak hanya melibatkan mahasiswa baru Program Studi Komunikasi UNSIA, melainkan juga mahasiswa Universitas Nasional (UNAS), kalangan akademisi, dan masyarakat umum. Tercatat sebanyak 275 peserta hadir dan mengikuti seminar baik melalui zoom meeting maupun live streaming di kanal Youtube “UnsiaTv”.

Ketua Program Studi Komunikasi UNSIA, Rosanah, S.S., M.I.Kom., AMIPR menuturkan, webinar perdana ini merupakan upaya Program Studi Komunikasi UNSIA dalam menyambut baik mahasiswa baru. Sebagai stimulus yang diharapkan dapat memberikan manfaat dan inspirasi kepada seluruh mahasiswa dalam merespon transformasi komunikasi digital. Kedepannya, Rosanah berharap acara webinar semacam ini dapat terus dilakukan secara berkala serasa berharap mendapat respons positif dari berbagai pihak guna eksplorasi berbagai fenomena dan dinamika komunikasi yang terjadi dari para pakar di bidangnya, terutama Bidang Penyiaran Digital, Komunikasi Digital dan Komunikasi Perusahaan.

Sumber : (prodikom) unsia.ac.id
Editor : Tim F&R

Bagikan :
error: Protect !!!