Program Mozi Masagi Dompet Duafa Solusi Tepat Pencegahan Stunting di Era Corona

oleh -27 Dilihat

Garut, Fakta dan Realita-

TINGGINYA jumlah penderita stunting di dunia saat ini, tengah menjadi masalah serius. Pasalnya, dimasa Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung 2 tahun lebih ini, angka stunting secara global terus mengalami kenaikan. Bahkan di dunia, menurut badan kesehatan dunia (WHO), kasus stunting belakangan ini meningkat drastis mencapai 700 ribu kasus. Alhasil, setidaknya akan terdapat sekitar 144 juta anak stunting di seluruh dunia sekarsng ini.

Di Indonesia sendiri, dengan kondisi seperti ini, pemerintah pun mau tidak mau harus memutar otak demi menyelamatkan generasi bangsa ini kedepannya. Butuh adanya sebuah keseriusan dan juga inovasi yang tepat dalam mencegah dan mengatasi dampak pandemi Covid-19 terhadap peningkatan kasus stunting di Indonesia.

Peduli akan nasib generasi bangsa ini,  Dompet Dhuafa baru-baru ini berinisiatif untuk bekerjasama dengan Pemerintah Pusat dan Daerah, yang dalam hal ini melibatkan petugas Dinas Kesehatan, Puskesmas, desa/ kelurahan, PKK, kader posyandu, perguruan tinggi, dan mitra pendukung program untuk melakukan program Aksi Peduli Dampak Corona (APDC) pada keluarga terdampak.

Program APDC tersebut difokuskan pada pencegahan stunting periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dengan aktivitas pendampingan, pemantauan kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang bayi baduta, yang secara intensif digelar di 8 wilayah kawasan pendampingan Dompet Dhuafa di Garut Jawa Barat, Serang Banten, Jakarta Timur DKI Jakarta, Bogor Jawa Barat, Kelurahan Oebelo NTT, Gili Gede Indah NTB, Gunungkidul Jogjakarta, Banda Aceh DI Aceh.

dr. Yeni Purnamasari MKM, selaku GM Divisi Kesehatan Dompet Dhuafa pada sesi peluncuran Mozi MASAGI pada Rabu (10/02/2021) lalu mengatakan, Mozi Masagi merupakan inovasi program gizi Dompet Dhuafa yang pertama kali diluncurkan di wilayah Garut Jawa Barat, dengan maksud dan tujuan untuk mengoptimalisasi 1000 HPK,  terutama pada pendampingan ibu hamil dan baduta yang mengalami masalah gizi seperti wasting, anemia maupun stunting. Eliminasi stunting dan malnutrisi pada baduta, menurutnya, menjadi upaya strategis dalam menyiapkan generasi penerus bangsa yang saat ini terdampak pandemi Covid-19.

“Dompet Dhuafa dengan program APDC (Aksi Peduli Dampak Corona) bersama Puskesmas Guntur, Kelurahan Ciwalen kecamatan Guntur Kota,  Mitra PT. Paragon, Perguruan Tinggi, Tokoh Lokal dan Kader Posyandu di wilayah tersebut, terlibat secara aktif dalam pemenuhan gizi anak yang telah diskrining 173 anak dari 187 balita di 14 posyandu, dengan 30 anak yang akan didampingi selama masa intensif program pos gizi dengan asupan makanan gizi seimbang sesuai standar WHO selama minimal 28 hari. Lalu, dilanjutkan dengan pemantauan berkala dan peningkatan peran serta aktif masyarakat untuk bersama peduli dan bergerak mengatasi masalah gizi tersebut,” ujar dr. Yeni Purnamasari MKM, Sabtu (12/02/2020).

Launching Mozi Masagi (Motor Gizi, Makanan Sarat Gizi), merupakan upaya Dompet Dhuafa untuk menjangkau keluarga yang memiliki ibu hamil yang bermasalah gizi dan juga keluarga yang memiliki bayi balita dengan permasalahan gizi dalam penyediaan makanan siap saji dengan komposisi gizi seimbang oleh kader yang telah dilatih ke rumah-rumah ditengah keterbatasan masyarakat untuk bahan pangan bergizi dan berkualitas.

Sementara itu, Ustadz Ahmad Shonhaji selaku Direktur Dakwah, Budaya dan Pelayanan Masyarakat yang juga hadir bersama dr. Yeni mengutarakan, bahwa hal ini merupakan implementasi program APDC Dompet Dhuafa dalam mengatasi dampak pandemi Covid dengan fokus pencegahan stunting dimana salah satunya berdampak pada pemenuhan kebutuhan gizi anak yang terbatas sehingga menimbulkan kasus malnutrisi diantaranya wasting dan stunting.

“Mozi Masagi dilaunching di Kelurahan Ciwalen, Kecamatan Guntur Kota, Garut, bekerjasama dengan Puskesmas Guntur dan pihak Kelurahan Guntur untuk mendampingi 187 bayi balita di 14 posyandu dengan fokus pendampingan pada 20 anak yang memiliki masalah gizi selama 28 hari dengan mengoptimalkan sumber pangan lokal yang memiliki komposisi dan kecukupan gizi seimbang untuk anak.

Kedepan, menurutnya, Mozi Masagi ini  akan menjadi model bagi pengembangan program pendampingan gizi diberbagai wilayah di Indonesia. Sehingga dapat berperan dalam mencegah stunting dan meningkatkan kesehatan anak Indonesia sebagai sumber daya pembangunan Indonesia dengan tetap menjaga protokol kesehatan di era Pandemi Covid 19,” ujar Ustaz Ahmad Shonhaji.

Sementara Sri Prihatin, Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Garut, mengatakan, situasi ditengah pandemi Covid-19 tentunya justru memperparah kondisi kesehatan ibu dan anak, dan khususnya anak-anak balita.

Menurutnya, berdasarkan data survei, Kabupaten Garut termasuk dengan angka stunting tertinggi pada tahun 2019. Diantara kabupaten/ kota di Jawa Barat, Garut menempati rangking ketiga stunting tertinggi.

“Ini tentunya menjadi PR kita bersama, oleh karena itu, sampai saat ini kita terus berusaha karena kita masih divonis angka stunting tertinggi di tahun 2017, pada Tahun 2019 kemarin kita Alhamdulillah sudah turun dari 43,2%, menjadi 27,3%,” ucapnya.

Sri pun berterima kasih kepada pihak Dompet Dhuafa, semoga inovasi ini tidak hanya kita kembangkan di puskemas Guntur maupun Ciwalen, namun kita kembangkan di lokasi khusus stunting lainnya di kabupaten Garut,” pungkas Sri Prihatin.

“Alhamdulillah dengan adanya motor gizi ini sangat membantu kami dalam pemeriksaan gizi hingga pemenuhan gizi bagi saya maupun anak saya. Merasakan pencegahan stunting itu sangat penting,” demikian kata Adestri, salah satu warga Ciwalen yang berstatus ibu rumah tangga beranak dua.

Reporter : Wa’Oded | Editor : Red_FR

No More Posts Available.

No more pages to load.