19 Juni 2021

Fakta & Realita

Berita Harian Terkini, Berita Hari Ini, Kabar Harian Terbaru Terpercaya Terlengkap Seputar Priangan

Menelusuri Sejarah Romantisme Mataram dan Belanda di Desa Cinta Garut

Garut, faktadanrealita.com-

Entah bagaimana ceritanya sesungguhnya, namun dalam catatan sejarah, kompeni Belanda begitu mencintai desa ini. Bahkan sejak 1819, nama desa di Garut, Jawa Barat ini, sudah dikenal di negeri kincir angin Belanda.

Tjinta, demikian nama desa itu. Menggunakan ejaan lama sebelum disempurnakan, Desa Cinta di Kecamatan Karang Tengah, Garut ini, sudah dikenal masyarakat Belanda karena keasrian dan keelokan alamnya.

Selain masyarakatnya yang dikenal ramah, konon di wilayah ini menyimpan pesona alam yang membuat banyak orang, termasuk bule Belanda saat itu, betah di sana.

Berada di kaki bukit Puncak Kalang, berdekatan dengan hutan Karaha, kabupaten Tasikmalaya, pengunjung bakal menikmati suguhan pemandangan alam yang menyejukan hati.

Hamparan petakan sawah yang bertingkat berpadu dengan semilir angin yang berasal dari pepohonan ladang perkebunan milik warga di sekitar bukit, memberikan suasana alam nan tenang di Desa Cinta.

Bahkan sumber air yang mengalir di sekitar pesawahan dan pemukiman warga hampir sepanjang tahun, mampu membuat siapapun orang betah dan ingin berlama-lama di sana.

Kepada Desa Cinta Gaos Hamdani mengatakan, penamaan Desa Cinta merupakan inisiatif warga sekitar, jauh sebelum kompeni Belanda masuk menjajah wilayah Garut dan sekitarnya.

“Tanahnya subur, istilahnya tongkat dan kayu jadi tanaman memang ada di sini, sehingga Belanda pun jatuh cinta,” kata dia.

Berdasarkan cerita yang berkembang warga sekitar, nama Cinta pertama kali dikenal Belanda, karena ketertarikan mereka kepada penduduk lokal yang dikenal berparas cantik.

“Dulu di sini juga banyak keturunan bangsawan dan priyayi,” ujarnya, dalam obrolan hangat dengan faktadanrealita.com, Jumat (3/1/2020).

Kondisi itu diperkuat dengan sifat warganya yang santun dan menjunjung tinggi toleransi. Ini, membuat Belanda semakin jatuh hati kepada Desa Cinta.

“Istilahnya ada perpaduan antara romantisme dengan kondisi alam,” ujarnya.

Makam Keramat di Desa Cinta

Dalam kurun waktu cukup lama hingga 1927, pasukan Belanda sengaja membuat markas atau basecamp di wilayah Desa Cinta. Belanda bertempur dengan pejuang di bawah komandan Embah Dalam Mangkubumi.

“Di satu sisi mereka kalah, tapi sikap warganya yang ramah membuah Belanda kembali lagi datang,” dia menjelaskan.

Bahkan ada salah seorang bekas penjajah Belanda, sengaja membuat buku tentang desa Cinta. Tampknya ia begitu jatuh hati kepada desa yang satu ini.

“Ada keluarganya menyusul dari Belanda jika bapaknya gak mau pulang ke Belanda, dan diketahui tengah menyusun buku soal Desa Cinta,” dia mengungkapkan.

Tidak hanya itu, Embah Dalem Mangkubumi, seorang priyayi utusan Raja Sultan Agung dari kerajaan Mataram konon enggan kembali ke wilayah Mataram. itu terjadi dia kepincut gadis lokal.

“Masyarakat di sini kemudian mengangkatnya sebagai tokoh yang disegani dalam melawan penjajah Belanda,” dia menjelaskan.

Kemudian hari, banyak keturunan Embah Dalem Mangkubumi yang menjadi pemimpin masyarakat di kemudian hari. Gubernur keempat Jawa Barat, Muhammad Sanoesi Hardjadinata itu, diketahui adalah salah satu keturunan dari Embah Dalem Mangkubumi.

Keberadaan daerah yang damai, tentram merupakan anugerah terbesar. Hal itu tak lepas dari peran besar Embah Dalem Mangkubumi, tokoh yang mampu mengusir Belanda dari sana.

Baca Juga :   Desa Sindanglaya Salurkan Bantuan Pangan Non Tunai ( BPNT ) BNI dan Mandiri Kepada 320 KPM

Hingga kini ada empat makam tua yang dikeramatkan masyarakat Desa Cinta. Pertama, Makam Dalam Lurah atau Lurah Bintang, biasa masyarakat sekitar memanggil, bersama istri. Kemudian makam Jaksa dan Buya Idrus.

Khusus makam terakhir, konon hanya sepanjang 60 sentimeter. Padahal saat hidupnya, tokoh itu memiliki perawakan standar orang dewasa.

“Mungkin karena ilmu saktinya, saya sendiri tidak begitu mengetahui cerita itu,” ujar dia.

Masyarakat sangat menghormati makam keramat ini. Hingga kini tidak ada yang berani menggali kubur di dekat makam itu.

“Pernah ada yang meninggal dunia ingin (dimakamkan) dekat makam Lurah Bintang, tiba-tiba tanahnya tidak bisa digali menjadi keras, sementara tanah di sekitarnya bisa (digali),” kata dia.

Potensi Desa Cinta

Saking keramatnya, konon bagi orang yang tidak mengucapkan salam saat melintasi makam keramat itu, ia akan terkena bala. Ia bakal kesulitan melepas penutup kepala semacam kopyah atau topi.

Tak mengherankan, khusus pada bulan Maulud dan bulan besar Islam lainnya, banyak peziarah dari berbagai daerah. Informasi yang beredar, banyak pula pejabat yang berziarah untuk melanggengkan kekuasaan.

“Tapi intinya kita berdoa pada Allah SWT,” ujar Gaos, meyakinkan masyarakat agar jangan salah niat saat berjiarah.

Memiliki tanah yang subur makmur gemah ripah loh jinawi , Desa Cinta memang diciptakan untuk memberikan kemaslahatan bagi penduduk. Tak mengherankan hampir semua jenis komoditas tumbuh subur di wilayah Desa Cinta.

Belakangan, potensi wisata Desa Cinta mulai dilirik investor. Sebut saja destinasi Wisata Puncak Kalang yang berada dekat hutan Karaha. Kemudian Agro Wisata Agra Banda, sebuah perusahaan pembibitan kentang tingkat nasional untuk kebutuhan ekspor.

“Sekarang bahkan bibit unggul tanaman lain juga mulai dikembangkan di sana,” kata Gaos.

Sentra peternakan domba pedaging berkualitas tinggi juga dikembangkan di desa ini. Domba jenis unggul, hasil perkawinan domba Garut dengan Dorper, Australia, yang dikenal gemuk namun minim lemak. Hasil ternak ini diekspor ke luar negeri.

Alam yang begitu mengagumkan dan potensinya yang besar di bidang pertanian, peternakan dan wisata, Desa Cinta segalanya untuk berkembang. Misalnya menjadi geowisata, perpaduan pemanfaatan energi panas bumi yang dipadukan dengan konsep pertanian.

Pada 2017 lalu, Desa Cinta berhasil menyabet penghargaan bergengsi dari pemerintah pusat, sebagai desa Sadar Hukum terbaik nasional dari Jawa Barat.

“Prasasti penghargaannya langsung ditandangani bapak Menteri Yasonna Laoly,” ujar Gaos.

Keamanan dan ketenteraman di Desa Cinta unggul dibanding desa-desa lainnya dari seluruh Indonesia. Kriminalitas di desa ini sangat rendah. Desa Cinta juga bebas dari narkoba, apalagi terorisme.

“Hingga kini warga kami masih melaksanakan jumsih alias jumat bersih, pos kamling bergiliran antar warga,” dia menjelaskan.

Berdasarkan cerita masyarakat sekitar, ada satu kampung bernama Ragadiem (Jiwa menjadi diam). Desa ini diyakini bikin luruh seluruh ilmu hitam.

“Pokoknya ilmu hitam apapun menjadi tidak berfungsi, bahkan maling pun takut, jadi hingga kini aman,” dia mengungkapkan.(Wena)

Bagikan :
error: Protect !!!