Pemberi Hibah Pistol Kepala SMKN 1 Garut, Ternyata Pernah Digerebek Polisi atas Dugaan Prostitusi Terselubung

oleh

Garut, faktadanrealita.com-

DADANG Djohar Arifin bin Moch. Gaos Kartiwa Nata Wijaya (alm) yang duduk manis menjabat sebagai Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Garut sudah lebih dari 10 tahun lamanya tidak terimbas mutasi, kini menjadi Viral di media terkait dengan kepemilikan senjata api yang dibawanya saat berada di kerumunan massa, di pelataran parkir eks sebuah supermarket di bilangan Simpang Lima, Jalan Pembangunan, Tarogong Garut, beberapa hari yang lalu.

Pada klarifikasinya di Polres Garut, Dadang mengatakan senjata yang ia miliki merupakan hibah dari direktur D’crown bernama Alfian beralamat Perum Johar Indah D/1 Rt. 01 Rw. 10 Ds. Adiarsa Timur Kab. Karawang sesuai surat hibah surat ijin kapolri No. SI/ 4664/VII/YAAN.2.8/2019 Tertanggal 31 Juli 2019.

Terlepas dari permasalahan pihak SMKN-1 Garut yang berselisih dengan KADIN Garut, atau alasan Kasek membawa dan mempertontonkan senpi tersebut di saku celana pendeknya, ada hal yang menarik tentang siapa pemberi hibah pistol tersebut.

Selidik punya selidik ternyata pemberi hibah senpi pada Dadang Djohar adalah Alfian owner D’crown Karawang yang pada tahun 2017 silam digerebek Polda Jabar karena disinyalir menjadi tempat prostitusi terselubung.

Seperti yang dilansir dari m.detik.com Direktorat Krimum Polda Jabar menggerebek griya pijat D’Crown di Jalan Ahmad Yani Karawang, Tempat itu diduga mempekerjakan perempuan di bawah umur sebagai terapis.

Berdasarkan pengamatan media, selain menggiring perempuan terapis, petugas juga membawa satu unit CPU dari dalam Spa yang dikenal menyediakan layanan plus-plus itu. Senin malam (13/11/2017).

Menurut Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut Irwan Hendrasyah SE saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Jalan Terusan Ahmad Yani, Karangpawitan, Garut, mengatakan jika melihat dari perspektif budaya apa yang telah dilakukan oleh Kepala SMKN-1 Garut ini tidaklah mencerminkan Budaya mendidik, Rabu (10/06/2020).

“Ini sebuah contoh yang tidak baik karena seorang pendidik terlebih Kepala Sekolah harus mampu menerapkan fungsinya sebagai edukator dan peran sebagai pemimpin di sebuah lembaga edukasi,” ujarnya.

Lanjut dikatakan Irwan yang akrab disapa Kang Jiwan ini, membawa senpi bagi seorang Kepala Sekolah merupakan budaya keliru, apalagi pada situasi keamanan Garut yang sangat kondusif.

“Kalau begitu pak Kasek tidak percaya pada aparat keamanan seperi TNI-POLRI sehingga harus membentengi dirinya dengan senpi, juga merasa tidak percaya lagi akan adanya budaya sawala dalam menyelesaikan setiap masalah yang ada,” tandasnya.

Kang Jiwan berharap kepada aparat kepolisian yang telah mengeluarkan izin atas kepemilikan senpi Dadang Djohar, untuk meninjau ulang perizinan tersebut, agar tidak ada lagi kasus seperti ini di kemudian hari.

Reporter : Wa’Oded | Editor : Red_FR

No More Posts Available.

No more pages to load.