Padahal, berbagai usaha telah dilakukan guna menarik minat konsumen dari berbagai daerah.

“Bukan hanya pedagang yang bingung. Kita juga sama bingung dengan kondisi seperti itu. Tapi, berbagai upaya akan terus dilakukan untuk meramaikannya. Kita belum tahu alasannya. Seperti halnya pasar. Jadi, pasar ini terletak di lokasi strategis dan embrionya sudah ada sejak lama, jadi pasar mingguan , “ujar Erwin, Kamis (06/02/2020).

Sedangkan, Pasar Desa Neglasari yang dibangun dengan biaya sebesar Rp1,3 miliar dan Pasar Rakyat Desa Ciwangi yang direvitalisasi sebesar Rp1 miliar itu belum beroperasi karena sarana prasarana penunjangnya belum memadai.

Baca Juga :   Kemenkop UKM Perpanjang BLT UMKM Hingga Akhir Nopember 2020, Bagi yang Belum Buruan Daftar !!

Berdasarkan hal itu, Erwin melaporkan pihaknya sudah melayangkan surat ke kepala desa agar pasar tersebut segera dioperasikan. Alasannya, pasar desa merupakan aset desa yang disetujui oleh pemerintah. Pasar desa menjadi salah satu unit usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Maju mundurnya pasar desa bergantung pada perhatian pemerintah desa sendiri.

Erwin terangkan, tidak semua pasar desa di Garut direvitalisasi melalui Disperindag ESDM. Beberapa pasar desa lainnya dibangun melalui program di dinas lain. Tersedia juga pasar desa yang dibangun bersama pihak swasta, seperti Pasar Desa Banyuresmi Kecamatan Banyuresmi.

Jumlah pasar desa di Garut direvitalisasi melalui Disperindag ESDM sendiri hanya berjumlah 14 pasar desa, sejak 2013. Pasar-pasar desa tersebut tersebar di 13 kecamatan dengan jumlah kios total 2.865 unit dan berkurang 928 unit.

Pasar Desa Cirapuhan Kecamatan Selaawi, Karangwangi Mekarmukti, Tegalgede Pakenjeng, Selaawi Talegong, Cihurip, Simpang Cibalong, Nyalindung Cisewu, Pasirwangi. Pancasura Kecamatan Singajaya.

Kendati ada pasar desa yang belum dikerjakan dan lesu transaksi perdagangannya, Erwin mengklaim sebagian besar pasar desa dari 14 pasar desa itu menunjukkan geliat perkembangan transaksi cukup signifikan.

Erwin setuju jika bangunan pasar-pasar tersebut berstandar sama sesuai prototipe yang ditetapkan Kementerian Perdagangan. Selain ada bangunan kios, dan los, juga ada ruang pengelola, musala, MCK, dan ruang tera.

“Memang tidak semuanya dilengkapi dengan ruang tera. Karena, syarat keberadaan ruang tera ini muncul di 2019. Makanya, untuk pasar desa yang direvitalisasi sebelum kita dorong agar dibangunkan ruang teranya,” kata Erwin didampingi Pelaksana Iman Kadarusman.

Dia menambahkan, ke depan mulai 2021 mendatang pengembangan pasar di Garut akan diarahkan ke pembangunan pasar-pasar desa daripada pasar kabupaten. Hal itu dapat memungkinkan menumbuhkan pemerataan ekonomi di daerah. Tidak lagi terkonsentrasi di satu titik tertentu. (Wena)