Pihak Agen Terkesan Asal-Asalan, Penyaluran BPNT di Desa Mekarsari dan Cibatu Garut Rugikan KPM

oleh -16 Dilihat

Garut, Fakta dan Realita-

PADA penyaluran bahan pokok program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), kerap sekali muncul persoalan yang ujung-ujungnya merugikan pihak KPM. Hal itu terjadi akibat penyalurannya bertolak belakang dengan unsur Enam Tepat (6T), yaitu Tepat sasaran, Tepat jumlah, Tepat waktu, Tepat kualitas, Tepat harga, dan Tepat administrasi.

Pemerintah sendiri terkait program BPNT ini telah mensosialisasi himbauan tersebut melalui berbagai media massa, baik televisi, radio, media cetak maupun media online serta pula media-media pemberitahuan lainnya. Padahal, disitu jelas bahwa pihak agen BPNT hendaknya selalu memperhatikan unsur 6T tadi dalam pengadaan barang untuk para KPM.

Ironisnya, dari hasil pantauan Media Fakta dan Realita pada penyaluran BPNT di desa Mekarsari dan desa Cibatu, Garut,  terutama terhadap Agen Lukman dan Agen Eva, Rabu (07/04/2021), tenyata ditemukan adanya item dan ukuran barang yang berbeda dari yang seharusnya.

Seperti pada Agen Eva, khusus untuk item buah-buahan, menurut keterangan pihak Agen Eva, yang dibagikan ke KPM itu berupa buah apel. Namun saat dibuka plastiknya bukannya buah Apel yang didapat seperti apa yang disebutkan pihak Agen Eva, malah nampak dua buah jeruk kecil yang masih kehijauan. Jadi, yang dikatakan pihak Agen Eva itu tak lebih dari sebuah kebohongan belaka. Demikian penuturan salah seorang KPM bernama El (40), warga asal Kampung Cicarag Cibatu, yang merasa kecewa dengan perbuatan yang dilakukan oleh Agen Eva.

“Begitupun dengan kentang yang telah dibagikan, ukurannya sangatlah kecil. Ya, intinya ada beberapa item barang yang tak sesuai dalam bantuan tersebut, kami merasa itidak puas, kuat dugaan pihak  agen pilih barang asal jadi aja,” keluh ibunya  El.

Lain halnya dengan pernyataan yang disampaikan Agen Lukman kepada para awak media. Ia justru mengaku secara terang-terangan bahwa tingginya harga daging sapi sekarang ini, maka ia pun terpaksa harus menggantikannya dengan item lain, “yang penting sesuai dengan harga yang diterima KPM yakni senilai Rp200.000,” katanya berkelit.

Reporter : Wa’Oded | Editor : Red_FR

No More Posts Available.

No more pages to load.