Akibat Corona, Banyak Pedagang Banting Stir Jadi Pemulung

oleh -2 Dilihat

Purwakarta, faktadanrealita.com-

AKIBAT pandemi Covid-19, banyak pedagang di Purwakarta beralih profesi menjadi pemulung. Mereka terpaksa memulung karena dagangan tak laku atau tidak bisa berjualan akibat pembatasan sosial skala besar.

Fenomena itu terungkap saat sekitar 100 pemulung dikumpulkan oleh anggota DPR RI Dedi Mulyadi di Tajug Gede Cilodong, Purwakarta, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).

Dedi mengatakan, kegiatan ini merupakan kali kedua. Sebelumnya, ia juga mengumpulkan 200 pemulung di masjid besar itu sesuai dengan protokol pencegahan Covid-19.

“Mereka itu banyak profesi sebelmnya bukan pemulung. Mereka menjadi pemulung karena terpaksa, tidak ada pilihan. Sebelumnya mereka pedagang kopi dan pedagang makanan,” kata Dedi melalui sambungan telepon, Selasa.

Menurutnya, mereka menjadi pemulung setelah pandemi corona melanda Indonesia.

Para pemulung ini kebanyakan dari luar seperti Bogor, Ciamis, Cianjur, dan Cirebon. Mereka sebelumnya sudah menjadi pedagang di purwakarta dan tinggal di rumah kontrakan dengan biaya rata-rata Rp 500.000 per bulan.

“Namun setelah corona pecah dan ada aturan jaga jarak fisik dan pembatasan sosial, jualan mereka tidak laku. Akhirnya mereka menjadi pemulung demi menutupi kebutuhan dan bayar kontrakan. Mereka terjebak dalam situasi,” katanya.

Karena menjadi pemulung, mereka pun berkeliaran dan rawan terkena atau menyebarkan wabah corona. Dedi pun mengumpulkan mereka untuk diberi arahan agar tinggal di rumah.

“Mereka istrihat dulu satu bulan pertama, bulan kedua dikumpulkan lagi. Yang penting mereka istrihat di rumah. Kebutuhan hidup mereka kami bantu,” kata wakil ketua Komisi IV ini.

Soroti bantuan sembako

Dalam kesempatan wawancara itu, Dedi menyoroti bantuan sembako. Ia menilai, bantuan sembako yang kini digencarkan oleh pemerintah kurang efektif.

Menurutnya, bantuan berupa sembako memakan waktu terlalu lama dan biaya yang dikeluarkan pun lebih tinggi.
Bantuan sembako memakan waktu cukup lama, mulai proses pengadaan, pengepakan, pengangkutan hingga pengantaran.

“Kalau dihitung, biayanya sangat tinggi. Per paket bisa lebih dari 50.000. Biaya antar ojek berapa, paket pos berap, itu kan mahal. Belum lagi banyak kendala di lapangan,” katanya.

Menurutnya, bantuan berupa sembako cocok di perkotaan dan itu bisa memberdayakan ojek online. Selain biaya antar tidak terlalu mahal, juga waktu pengiriman cukup efektif.

Sementara untuk masyarakat desa, Dedi mengusulkan bantuan dampak Covid-19 diberikan dalam bentuk uang tunai. Uang itu nantinya dibelikan bahan makanan ke warung-warung kecil di desa. Penerima juga bisa memilih bahan makanan yang cocok bagi mereka.

“Jadi warung-warung kecil di desa pun ikut terbantu. Kalau sembako kan yang untung vendor-vendor besar,” kata Dedi.

Reporter : WH | Editor : Red_FR

No More Posts Available.

No more pages to load.