FaktadanRealita.com, Surabaya – Gemuruh tepuk tangan dan lantunan lagu kebanggaan almamater biasanya menjadi penanda puncak kebahagiaan dalam setiap prosesi wisuda. Namun, pada Sabtu, 18 April 2026, suasana di Graha Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya terasa diselimuti nuansa haru yang mendalam. Di tengah keriuhan perayaan kelulusan ke-133, sebuah momen khusus didedikasikan untuk mengenang Abdul Rohid, seorang alumnus berdedikasi tinggi yang telah mendahului, gugur saat menunaikan baktinya dalam Tim Ekspedisi Patriot (TEP) di kawasan bahari Tomini Raya, Sulawesi Tengah. Kisahnya bukan sekadar catatan duka, melainkan sebuah epilog heroik yang mengukir makna sejati pengabdian.
Wisuda adalah gerbang menuju babak baru kehidupan, sebuah pencapaian yang dirayakan bersama keluarga dan sahabat. Bagi sebagian besar wisudawan, ini adalah penantian panjang yang berujung pada kebanggaan. Namun, bagi keluarga Rohid, kehadiran mereka di Graha ITS memiliki dimensi yang berbeda. Sejak awal acara, ketika lantunan doa mengalun, air mata tak tertahankan membasahi pipi mereka, menjadi saksi bisu dari kehilangan yang tak terhingga namun juga kebanggaan yang melampaui batas.
Adik kandung Rohid, dengan sorot mata yang penuh kerinduan, tampak menggenggam erat sebuah foto sang kakak. Potret itu bukan sekadar gambar, melainkan representasi nyata dari kehadiran Rohid di tengah perayaan penting tersebut. Sebuah simbol abadi yang menegaskan bahwa meskipun raga tak lagi membersamai, semangat dan dedikasinya akan selalu hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah ITS.
Sejatinya, toga wisuda telah menanti Rohid sejak September 2025. Namun, panggilan jiwa untuk mengabdi kepada masyarakat lebih kuat. Ia memilih menunda momen personal itu demi berkontribusi langsung melalui Tim Ekspedisi Patriot, sebuah inisiatif mulia yang bergerak di garis depan pembangunan dan pemberdayaan di wilayah terpencil. Keputusan ini mencerminkan karakter luhur dan komitmennya yang tak tergoyahkan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan kemajuan bangsa.
Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati, dalam pidatonya, menyampaikan penghormatan tertinggi kepada almarhum. Beliau menyoroti bahwa Rohid bukan hanya seorang mahasiswa berprestasi, melainkan juga teladan nyata dalam dedikasi dan kontribusi. Kepergiannya meninggalkan jejak inspirasi yang tak terpadamkan, mengingatkan seluruh sivitas akademika tentang esensi dari ilmu pengetahuan yang seharusnya bermuara pada kebermanfaatan bagi sesama.
"Pada kesempatan yang penuh makna ini, kami menghaturkan penghormatan serta penghargaan setinggi-tingginya kepada almarhum yang telah memberikan keteladanan luar biasa," ujar Prof. Bambang, suaranya sarat emosi. "Beliau mengajarkan kita untuk selalu berdedikasi, berkontribusi, dan memberi dampak terbaik hingga akhir hayatnya. Semangat ini akan terus kami jaga dan teladani."
Puncak momen haru terjadi saat penyerahan ijazah. Atas nama almarhum, ijazah tersebut diterima oleh pihak keluarga, sebuah simbol kelulusan yang diperjuangkan dengan pengorbanan jiwa. Penyerahan dilakukan langsung oleh Rektor ITS dan Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Bapak M. Iftitah Sulaiman Suryanagara. Kehadiran seorang menteri menandakan betapa besar pengorbanan Rohid diakui oleh negara, terutama dalam konteks pembangunan wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal yang menjadi fokus Kementerian Transmigrasi.
Dalam sambutannya, Menteri Iftitah mengungkapkan ada pesan terakhir dari Rohid yang sangat sederhana, namun memiliki kedalaman makna yang luar biasa. "Hadirin yang saya hormati, almarhum juga meninggalkan satu pesan, satu keinginan yang sederhana tetapi sangat dalam," tutur Menteri Iftitah, mengheningkan seisi ruangan. Keinginan itu adalah untuk menyekolahkan adiknya hingga meraih gelar sarjana, sebuah cita-cita mulia yang menunjukkan betapa besar perhatiannya terhadap masa depan keluarga.
Menyikapi keinginan tersebut, pihak kementerian dan ITS mengambil langkah konkret. Beasiswa penuh akan diberikan kepada adik Rohid, memastikan impian sang kakak dapat terwujud. Sebuah kolaborasi apik yang menunjukkan komitmen bersama untuk meneruskan warisan kebaikan Rohid. "Kami mengapresiasi komitmen dari ITS yang akan ikut menjembatani agar adiknya dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi," tambah Menteri Iftitah, disambut anggukan haru dari keluarga.
Tak hanya itu, Rohid juga memiliki harapan tulus untuk memberangkatkan kedua orang tuanya menunaikan ibadah umrah. Sebuah keinginan yang mencerminkan bakti seorang anak kepada orang tuanya, sebuah janji suci yang ingin ia penuhi. Menteri Iftitah dengan tegas menyatakan kesiapannya untuk membantu mewujudkan harapan mulia tersebut.
"Insyaallah kami akan membantu memberangkatkan kedua orang tua almarhum untuk menunaikan ibadah umrah," pungkas Menteri Iftitah. "Semua ini kami lakukan bukan sebagai balasan, karena jasa almarhum tidak bisa kami balas dengan apapun. Ini adalah bentuk penghormatan kita semua yang hadir di ruangan ini atas cinta seorang anak kepada orang tuanya, sebuah cinta yang begitu tulus dan murni." Kata-kata ini menutup pidatonya dengan sentuhan emosional yang mendalam, menegaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan bakti sejati akan selalu dihargai.
Kisah Abdul Rohid bukan hanya tentang seorang wisudawan yang gugur, melainkan tentang sebuah warisan abadi dari dedikasi, pengorbanan, dan cinta keluarga. Namanya kini terukir sebagai salah satu patriot sejati yang telah menyumbangkan jiwa dan raganya demi kemajuan bangsa, sekaligus menjadi inspirasi bagi setiap generasi ITS untuk tidak pernah lelah berbakti dan memberi dampak positif bagi masyarakat.
Sumber: news.detik.com