Wakasek SMKN 2 Garut, Ica Santana: “Selama 3 Hari Kedepan, Semua Guru SMKN 2 Garut Ikuti Kegiatan In House Training”

oleh -2 Dilihat

Garut, Fakta dan Realita-

DALAM rangka menyambut Tahun pelajaran Baru 2020/2021, SMK Negeri 2 Garut menggelar kegiatan In House Training (IHT) dengan tema “Adaptasi Kegiatan Belajar Mengajar di Masa dan Pasca Pandemi Covid-19 melalui Metode Blended Learning menuju New Normal”.

Kegiatan In House Training  ini diperuntukkan bagi guru-guru pengajar SMKN 2 Garut yang dalam waktu dekat ini akan segera melaksanakan kegiatan belajar mengajar melalui sistem online. In House Training ini sendiri akan berlangsung selama 3 hari, mulai dari tanggal 13 juli 2020 sampai dengan 15 Juli 2020. Tak kurang dari 168 guru mengikuti kegiatan In House Training  yang bertempat di komplek SMKN 2 Garut, jalan Suherman, kecamatan Tarogong Kaler, Garut, Jawa Barat.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 2 Garut, Ica Santana S.Pd, MM.Pd mengatakan, sehubungan di Tahun pelajaran Baru 2020/2021 ini masih dalam situasi pandemi Covid-19, maka sesuai arahan pemerintah kita putuskan bagi seluruh siswa SMKN 2 Garut untuk sementara ini tidak diperbolehkan masuk sekolah terlebih dahulu.

Untuk itu, kata Ica, selanjutnya seluruh siswa SMKN 2 Garut akan mengikuti kegiatan belajar jarak jauh melalui online di rumahnya masing-masing, yang akan dipantau dan dibimbing oleh guru-gurunya.  Agar pembelajaran olinenya lebih efektif dan terukur, maka guru-gurunya ini kita bekali terlebih dahulu dengan kegiatan In House Training yang dinamai Metode Blended Learning menuju New Normal.

Kegiatan In House Training ini sengaja di gelar agar semua guru dapat memahami tata cara pembelajaran melalui online sehingga nantinya tidak kaku dan dapat dimengerti serta dipahami oleh seluruh siswa SMKN 2 Garut yang sedang belajar di rumah.

Sesuai rencana, In House Training ini akan dilaksanakan selama 3 hari, mulai Senin 13 Juli 2020 sampai dengan hari rabu tanggal 15 Juli 2020 mendatang.

Ica juga menyebutkan, berdasarkan hasil PPDB SMK tahun ini, SMKN 2 Garut kedatangan 795 siswa baru kelas X angkatan tahun 2020/2021. Sampai dengan hari ini para pesrta didik  masih dalam proses daftar ulang.

Secara keseluruhan total siswa kelas X, XI dan XII SMKN 2 Garut sekarang ini berjumlah 2592 siswa yang terbagi dalam 8 jurusan, yakni :
1. Jurusan Desain permodelan dan                  informasi bagunan 3 Rombel
2. Teknik instalasi Tenaga Listrik 3                 Rombel                                                           3.Teknik Audio Vidio 3 Rombel
4. Teknik Elektronika Industri 2Rombel
5. Teknik kendaran Ringan 5 Rombel
6. Geologi pertambangan 2 Rombel
7. Multimedia 3 Rombel
8. Broadcasting 3 rombel

“Jumlah siswa baru SMKN 2 Garut tahun ini menurun dibandingkan dengan tahun 2019 lalu, meski demikian jumlah tersebut Alhamdulillah masih termasuk yang terbanyak untuk ukuran SMK Negeri di kabupaten Garut,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan, dalam penerimaan siswa Baru tahun ini, sesuai dengan Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil,  dana SPP bulanan siswa akan kita bebaskan. Sedangkan untuk  sumbangan berupa peran serta masyarakat bagi kemajuan pendidikan akan tetap ada. Itu pun diluar kouta 20 persen bagi siswa yang tidak mampu.

“Jadi kami tidak meminta partisipasi masyarakat tidak mampu pada kouta yang telah ditentukan 20 Persen. Partisipasi warga yang dimaksud hanya berlaku untuk 80% diluar yang kurang mampu,” ujarnya.

Terakhir, Wakasek SMKN 2 Garut yang dikenal dengan keramahannya ini berharap agar seluruh kegiatan belajar mengajar di SMKN 2 Garut bisa berjalan dengan baik dan lancar, walaupun situasi kondisi sekarang ini masih dalam masa pandemi Covid-19.

Sementara itu, Iwan Setiawan salah satu orang tua siswa baru kelas X yang lolos  melalui jalur nilai Raport mengatakan, menyambut positif kegiatan belajar yang sementara ini harus dilaksanakan di rumah.

Menurutnya, pada situasi seperti sekarang dimana masih adanya pandemi Covid-19, sudah barang tentu mau tidak mau penyelenggaraan pendidikan harus benar-benar menyesuaikannya, agar  para peserta didik terhindar dari sebaran Covid-19.

“Saya setuju sekali jika kegiatan pembelajaran ini dilakukan di rumah dahulu, sangat beresiko kalau harus di selenggarakan di sekolah, sebaran Covid-19  masih terus mengancam kesehatan anak-anak kita,” tandasnya.

Terkait adanya partisipasi sumbangan pendidikan bagi siswa diluar kuota 20% yang kurang mampu, Ia mengaku setuju dan tak keberatan dengan kebijakan tersebut, asalkan dana sumbangan itu nantinya dipergunakan untuk kemajuan pendidikan anak kita.

“Dunia pendidikan tidak akan berkembang dan maju tanpa ada peran serta orang tua, baik itu dari segi moril  maupun materil,” ungkapnya.

Reporter : Hadi/WH | Editor : Red_FR

No More Posts Available.

No more pages to load.