Quick Response Ketua DPC PDIP Kabupaten Garut, Yudha Puja Turnawan Terhadap Warga Kesusahan, Layak Diacungi Jempol

oleh -17 Dilihat

Garut, Fakta dan Realita-

MENDENGAR kabar tentang rubuhnya rumah pak Wawan (62) salah satu warga Kp. Citangtu, ketua DPC PDIP, Yudha Puja Turnawan tidak menunggu lama, Ia bersama jajarannya langsung menuju lokasi dan langsung memberikan bantuan. Dan bukan hanya membantu pak Wawan saja, tetapi warga sekitarnya pun ia berikan paket sembako.

“Saya baru mendapat kabar dari rekan-rekan media tentang adanya rumah warga yang ambruk di daerah Citangtu Pangatikan, untuk itu saya bersama jajaran langsung menuju lokasi rumah itu untuk sedikit menyerahkan bantuan dalam upaya meringankan beban bagi keluarga korban dan bagi masyarakat sekitarnya juga” kata Yudha Puja Turnawan saat ditemui Insan Pers di lokasi.

Diketahui nasib Pak Wawan sungguhlah malang karena bantuan perbaikan rumah yang digadang-gadang akan segera datang dari Program Rutilahu yang bersumber dari bantuan Provinsi, malah tak kunjung datang, hingga akhirnya rumah reyot miliknya itu terlanjur rubuh sudah.

Pak Wawan yang tinggal di desa Citangtu RT02/RW07, Kecamatan Pangatikan, Garut, Jawa Barat, tersebut, setelah sang istri tercintanya meninggal dunia 8 tahun yang lalu, kini tinggal bersama anaknya yang bernama Rizal (27). Selama ini Rizal lah yang menjadi tulang punggung dari keluarga kecil ini. Setiap hari Ia harus bekerja membanting tulang, dengan cara bekerja serabutan bahkan harus menjadi pengamen demi memenuhi kebutuhan dirinya bersama sang ayah yang sudah 2 tahun belakangan ini menderita penyakit asam urat hingga tidak sanggup untuk bekerja lagi.

Setelah rumahnya rubuh pak Wawan harus bersahabat dengan dinginnya udara dimalam hari, karena itu pak Wawan lebih memilih tidur diluar rumah, tepatnya diteras rumah warga yang berdekatan dengan rumahnya yang sudah rubuh dari pada tidur dirumah warga.

Selain tak ingin merepotkan tetangganya jika ia harus tidur dirumahnya, ada alasan lain yang cukup membuat jurnalis Fakta dan Realita meneteskan air mata.

“Abi teh isin pami kedah bobo dibumi tatanggi, bilih ngarepotkeun, salain eta abi ge kedah mastikeun kasalametan pun anak nu kulem bumi, bilih katinggang bangunan bumi, bapak tiasa tingal bumi abi eta nu sakedap deui oge rata sareng taneuh (dalam bahasa Indonesia: saya malu jika harus tidur dirumah tetangga, takut merepotkan, selain itu saya juga memastikan keselamatan anak saya yang memilih tidur dirumah, bapak (kepada Fakta & Realita) bisa lihat rumah saya yang sebentar lagi rata dengan tanah),” terangnya, selasa (27/11/2020).

Terkait bantuan yang diterimanya, Pak Wawan mengucapkan terimakasih banyak atas bantuan yang diberikan oleh ketua DPC PDIP Kabupaten Garut ,Yudha Puja Turnawan.

“Alhamdulillah, nembe ieu bantosan nu ku abi ditampi tisaprak bumi abi runtuh, hatur nuhun pak Yudha sareng rengrengana, mugia sagala kasaean anjeuna dibales mangkali-kali lipet ku Gusti Allah SWT, (Alhamdulillah, baru ini bantuan yang saya terima disaat rumah saya rubuh, terimakasih pak Yudha beserta jajarannya, semoha semua kebaikan beliau dibalas berkali-kali lipat oleh Allah SWT),” ucapnya.

Dalam pantauan Fakta dan Realita, Kondisi rumah Pak Wawan sudah 90% rusak berat alias tidak layak huni dan mungkin dalam hitungan hari akan rubuh total dan rata dengan tanah.

Dalam informasi yang terhimpun bahwa rumah Pak Wawan rubuh pada hari jumat dua minggu yang lalu pada pukul 9 siang.

Bantuan dari pemerintah yang diterima Pak Wawan hanya BPNT Mandiri, walau tidak bisa memenuhi kebutuhannya dalam sebulan setidaknya pak Wawan bisa berusaha hidup mandiri, walau pada faktanya warga sekitar sering membantu memberi makan pak Wawan disaat bahan sembako dari BPNT sudah habis.

Dengan adanya bantuan langsung yang diserahkan oleh ketua DPC PDI -P Garut Yudha Puja Turnawan yang didampingi Camat Pangatikan H. Asep Harsono, Kades Citangtu Iya Saria, Ketua Bumdes Surya Mekar Motekar Ds. Citangtu Dedi, dan pengurus setempat, menggambarkan bahwa kepedulian antar sesama masih harus terus dijaga, karena satu tindakan akan jauh lebih berarti dari pada seribu bahasa.

Reporter : Asep Wita | Editor : Red_FR

No More Posts Available.

No more pages to load.